Tue. Sep 17th, 2019

Warta5.com

cerdas mewartakan

Dari Tol Cikampek Respon Gempa Tasikmalaya itu Dimulai

4 min read

[ A+ ] /[ A- ]

Tim Disaster Management Center (DMC) Dompet Dhuafa; Syamsul Ardiansah (Direktur), Farida (Recovery), Ato Parta (Driver), Ardi (Recovery), Camelia (GA) dan KBK yang ikut dalam rombongan baru sampai di KM 60 Tol Cikampek menuju Cirebon, Jumat malam (15/12/2017), Pukul 23.45 WIB. Smartphone tim DMC sama-sama bergetar, ternyata di setiap HP sudah terinstall aplikasi dari BMKG yang ketika ada bencana langsung memberikan peringatan.

“Gempa mas, di Tasikmalaya 7,3 SR (kemudian direvisi BMKG dengan 6,9 SR-Red) dan berpotensi Tsunami,” kata Ardi kepada Syamsul. Serta merta Syamsul melihat HPnya dan ternyata benar, selain dari BMKG, berbagai informasi dari jejaring relawan sepanjang pantai selatan Pulau Jawa mulai masuk. Ada yang mengatakan Tsunami udah mulai, penduduk sudah melihat ombak setinggi 6 meter.

Syamsul sebagai Direktur DMC memantau seluruh informasi apapun yang masuk tentang info bencana ini, kemudian langsung mengontak Manager Respon DMC Fadillah Rahman yang sedang cuti, karena kondisi darurat dia diminta untuk membatalkan cutinya segera untuk tanggap dan memberikan arahan kepada tim guna melakukan respon yang diperlukan sepanjang pantai selatan dan memverifikasi setiap laporan yang masuk agar diketahui informasi yang sebenarnya dan mana yang hanya hoax.

Disater Manajemen Center (DMC), Dompet Dhuafa, membagi 3 tim respon untuk menyisir wilayah bencana gempa yang menimpa laut selatan Jawa yang berpusat di Tasikmalaya.

Tidak lama berselang, Tim Respon memberikan laporan hasil koodinasi mereka. Dilaporkan kepada Syamsul, bahwa tim respon dibagi menjadi tiga tim; Tim pertama akan menyisir wilayah Pengandaran dengan koordinator Narwan, Cipatujah dikoordinasi Ahmad Yamin, Garut disisiri oleh Sanadi.

Tim Advance ini, kata Syamsul, bertugas untuk melihat kebutuhan warga terdampak dan langsung memberikan respon awal.

“Setelah itu, tim ini akan melaporkan hasil tinjauannya ke posko pusat untuk pertimbangan memberi respon yang lebih luas. Tim lapangan yang bertugas langsung update secara realtime melalui aplikasi online. Dari hasil laporan mereka Komando dapat mengambil kesimpulan bantuan apa yang dikirim untuk membantu korban bencana dan sekaligus membuat posisioning di wilayah mana DD akan konsentrasi membantu bencana ini,” terang Syamsul.

Untuk sementara Syamsul sudah tenang karena tim sudah siap untuk terjun memberikan respon dan segera berangkat malam itu juga. Kini ia memantau melalui media yang ada melihat informasi perkembangan gempa yang ternyata dirasakan di sepanjang garis pantai pesisir selatan pulau Jawa.

Mobil tim terus melaju menuju Cirebon dan Syamsul memutuskan untuk istirahat dulu di sebuah penginapan untuk saving energi persiapan Acara Serah terima bantuan 1 unit instalasi pemanen air hujan yang diperuntukkan untuk warga Keluarahan Kalijaga, Kecamatan Harjamukti, Kota Cirebon, Jawa Barat, Sabtu (16/12/2017) di MI Darul Ulum.

Esok harinya Pukul 7.30 WIB acara itu dimulai dan tidak berlama-lama penyerahan bantuan instalasi air dilaksanakan sesegara mungkin. Pukul 10.30 penyerahan itu selesai, Syamsul memutuskan untuk mendukung tim respon menyisir wilayah gempa yang terdekat dari Cirebon.

“Kita langsung menuju Tasik, Ciamis dan Garut,” ungkap Syamsul.

Dia berharap dengan melihat langsung ke lapangan segera dapat memberikan tindakan untuk membantu korban. Pagi itu data sementara yang berseliweran di media sudah ada 2 orang yang tewas karena tertimpa bangunan roboh karena gempa semalam.

Menjelang keluar dari Cirebon, tim bergabung dengan Resdha relawan DMC dari Jawa Barat. Ialah akhirnya yang jadi penunjuk jalan dari Cirebon menuju Kuningan, Pengandaran dan Ciamis.

Tepat Pukul 15.30 Wib rombongan sampai di Desa Ciparakan, RT06 RW03 Kecamatan Pamarican, Kabupaten Ciamis, depan Masjid Al Hidayah. Di sinilah Posko Induk respon bencana yang didirikan Badan Penanggulanan Bencana Daerah (BPBD) Ciamis. Di Posko Induk Ciamis BPBD mendirikan 4 tenda: dua untuk pengungsi, satu tenda untuk dapur umum dan satu tenda layanan kesehatan.

Di Posko inilah, kata Jajang, salahsatu staf BPBD Ciamis menyatakan kepada Tim Advance DMC Dompet Dhuafa Bupati Ciamis Drs. Iing Syam Arifin menetapkan status darurat untuk 7 hari ke depan, setelah meninjau kondisi korban gempa, di mana banyak rumah mereka yang rusak berat akibat gempa.

Di Posko Ini sudah ada relawan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Ciamis, Tagana dari Kementerian Sosial, Kepolisian dan relawan kesehatan. Mereka sudah bergerak membuka layanan Dapur Umum, Layanan Kesehatan dan Tenda Pengungsian.

Menurut informasi dari Baihaki, 32 tahun, Ketua Karang Taruna Desa Sukahurip, warga Sukahurip memang belum ke pengungsian karena masih sibuk mengamankan barang-barang mereka. Tapi untuk makan siang mereka sudah datang ke posko secara bergantian menjemput ransum untuk keluarga mereka. “Baru malam nanti mereka akan nginap di tenda pengungsian ini,” ungkap Baihaki.

Di papan pengumuman Posko Induk itu, tertulis laporan 17 kecamatan di Ciamis yang terdampak dengan data sementara 667 rumah rusak dengan berbagai kondisi; berat dan ringan.

“Sampai saat ini laporan korban dan rumah rusak masih terus masuk,” ungkap Jajang.

Setelah koordinasi di Posko Induk, Syamsul dan tim DMC lain didampingi Baihaki untuk melihat rumah-rumah yang terdampak gempa di Desa Sukahurip itu. Di RT06 RW banyak rumah yang hancur dan tidak layak huni. Di kawasan RT ini ada 49 warga yang terdampak dengan beberapa orang yang luka karena tertimpa material bangunan. Namun mereka sudah mendapat layanan kesehatan dari tim kesehatan setempat.

Setelah di RT06, Tim menyeberang ke RT01 RW01 di sana tim mendapati Masjid Al Ikhlas yang rata dengan tanah dan beberapa rumah yang rusak berat juga. Setelah melihat kondisi korban gempa di Ciamis ini Syamsul berpendapat, persoalan pangan kayaknya tidak masalah, meski di Posko Induk logistik hanya tersedia untuk dua hari, karena tidak ada akses yang terputus bantuan pangan tidak akan terganggu.

“Karena kebanyakan rumah penduduk tak layak huni, yang dibutuhkan mendesak adalah hunian sementara sampai rumah mereka dibangun kembali, ” terang Syamsul.

Untuk itu, lanjut Syamsul, Dompet Dhuafa akan fokus untuk membangun hunian sementara tidak jauh dari rumah masing-masing warga terdampak gempa, sampai pendataan kerugian dan biaya yang dibutuhkan untuk membangun kembali rumah-rumah mereka semakin jelas dan rumah mereka dibangun kembali.

“Huntara dibutuhkan karena tidak mungkin pengungsi lama-lama berada di tenda, apalagi saat ini musim hujan sementara sampai rumah mereka selesai dibangun akan membutuhkan waktu,” urai Syamsul.

Malam semakin gelap dan hujan yang turun menjelang magrib tadi pun mulai reda, ketika azan isya berkumandang di Masjid Al Hidayah satu per satu pengungsi mulai berdatangan ke Posko Induk itu. Sesudah isya, Tim Relawan DMC pun menyempatkan diri mengganti terpal untuk alas tidur di tenda pengungsi yang sudah basah akibat rembesan air hujan bersama BPBD Ciamis, setelah itu tim melanjutkan perjalanan menembus malam menuju Tasik dan Garut untuk menyisir lokasi pengungsian yang lain.

Copyright © All rights reserved. | Newsphere by AF themes.