Panik karena Gempa Baihaqi Lari Tanpa Celana

[ A+ ] /[ A- ]

Baihaqi, 32 tahun, Ketua Karang Taruna, Desa Suka Hurip, Kecamatan Pamarican, Ciamis, Jawa Barat, Jumat malam, 15 Desember 2017 lalu, baru saja sampai di rumahnya sehabis mendampingi beberapa anggota kepolisian Polsek Pamarican memeriksa dampak banjir di desa tetangga.

Ia keluar kamar dan mengambil air dari dispenser yang berada di ruang tengah. Sekonyong-konyong air yang baru saja tercurah ke dalam gelas menjadi tumpah. Bumi bergetar, rumahnya bergoyang dan dari atas atap terdengar gesekan kayu dan genting. Ia sadar, telah terjadi gempa dahsyat.

Bapak satu anak ini, segera melepaskan gelas minumannya dan berlari ke kamar, dengan secepat kilat ia meraih tangan isterinya lalu menariknya ke luar rumah lewat jendela kamar. Ia sengaja tidak berlari menuju pintu utama, karena jaraknya jauh untuk bisa sampai ke luar rumah.

Meski sudah secepatnya keluar rumah, isteri masih tertimpa genting di jidatnya. Untung pula tidak ada pengacaranya yang memberi komentar kepada wartawan kalau bengkaknya sebesar ‘bakpao’ akibat benturan itu. Yang jelas akibat kecelakaan itu, Baihaqi harus memapah isterinya ke Puskesmas Pamarican di pagi harinya setelah gempa mereda.

Nah, yang menggenaskan di tengah kegelapan malam, ia harus menyelamatkan diri ke halaman rumah berbaur dengan tetangga yang juga lari panik.

“Saking paniknya, saya ngga sadar kalau saya belum pakai celana, hanya pakai sempak doang, karena celana saya basah habis melewati banjir tanggul jebol,” ungkap Baihaqi, ketika ditemui KBK di Posko Pusat Gempa Ciamis.

Sama dengan rumah warga lainnya di RT01, RW01, Desa Suka Hurip, Rumah Baihaqi juga rusak. “Syukurnya tidak rusak berat, insya Allah masih layak huni,” jelasnya.

Suatu hal yang disyukuri Baihaqi adalah anak semata wayangnya tidak ada bersama dia di Suka Hurip, anaknya itu dititip sama orang tuanya di daerah lain.

***

Seperti dilansir BNPB gempa bumi Tasikmalaya berkekuatan 6,9 SR. Diikuti gempa susulan sebanyak 9 kali, yang terbesar mencapai 5,7 skala Richter.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Ciamis, bersama Tagana Dinas Sosial, Kepolisian dan relawan sudah mendirikan Posko Pengungsi yang membuka layanan Dapur Umum, Layanan Kesehatan, Tenda Pengungsian di Desa Ciparakan, RT06 RW03 Kecamatan Pamarican, Kabupaten Ciamis, depan Masjid Al Hidayah.

Seperti diutarakan salah seorang staf BPBD Ciamis, Jajang, di Ciamis terdampak 17 kecamatan dengan data sementara 667 rumah rusak, berat dan ringan.

Sementara itu, Direktur Disaster Management Center Dompet Dhuafa (DMC DD), Syamsul Ardiansyah langsung bertolak ke Ciamis, seusai menyerahkan instalasi pemanenan hujan, untuk warga Desa Kalijaga, Harjamukti, Cirebon.

Kepada KBK di lokasi gempa Ciamis, Syamsul menjelaskan, setelah melihat kondisi korban gempa di Desa Sukahurip, Pamarican, Ciamis Ia berpendapat, persoalan pangan kayaknya tidak masalah karena tidak ada akses yang terputus. Meskipun di Posko Induk Ciamis, stok logistik sementara hanya cukup untuk dua hari.

“Karena kebanyakan rumah penduduk tak layak huni, yang dibutuhkan adalah hunian sementara sampai rumah mereka dibangun kembali, ” terang Syamsul.

Saat ini di Posko Induk Ciamis BPBD mendirikan 4 tenda: dua untuk pengungsi, satu tenda untuk dapur umum dan satu tenda layanan kesehatan.

Setelah Syamsul sebagai Tim Advance memantau dampak gempa di Ciamis, selanjutnya upaya respon dilanjutkan Tim Respon DMC yang menyusul dari Jakarta Narwan dan Ahmad Yamin.

Setelah didata ulang oleh Tim Respon, Ahamd Yamin melaporkan, di Desa Sukahurip ini terdapat 184 rumah rusak ringan, 93 rusak sedang dan 67 rusak berat.

“Tim menemukan sama dengan pengalaman gempa tahun 2009, korban gempa bumi yang rumahnya masih kereteria Rusak Ringan malah merusak semua rumahnya agar tidak membahayakan keluarga mereka,” jelas Ahmad Yamin.

Saat ini, lanjut Yamin, masyarakat masih menunggu pemerintah melakukan verifikasi kerusakan bangunan bahkan dari beberapa rumah yang tim respon mau membantu, namun tidak di perbolehkan karena intrksi pemerintah setempat untuk menunggu pendataan tim pemerintah.

Hingga saat ini, lapor Yamin, Selasa (20/12/2017), korban yang rumahnya rusak masih bermalam di Posko Induk, sedangkan ketika siang hari mereka kembali kerumah masing-masing, termasuk Baihaqi juga harus bolak-balik antara posko dan rumahnya.**