Rumahnya Hancur karena Gempa, Jawaban Pasutri Ini Tidak Disangka

[ A+ ] /[ A- ]

SUKAHURIP – Mujur tidak dapat diraih, malang tidak dapat ditolak, demikian agaknya pribahasa yang dapat menggambarkan korban gempa Tasikmalaya, yang memporakporandakan rumah penduduk di Desa Sukahurip, Kecamatan Pamarican, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, Jumat (15/12/2017).

Itu yang dialami Keluarga Irin Ridwanto, 50 tahun, di RT06, RW 03, Desa Sukahurip. Rumahnya Rusak berat karena gempa itu. Malam itu, Ridwanto sendiri sedang tidak di rumah. Ia sedang di Tasik ada keperluan. Sementara yang di rumah hanya isterinya, Marni, 46 tahun. Sementara anaknya 2 orang; yang satu tinggal di tempat lain, sedangkan yang satunya yang diduga bersama ibunya di rumah.

Diceritakan Marni, ia sedang duduk di dalam warungnya dan bersiap menutup warungnya, Pukul 23.46 Wib. Tiba-tiba ia merasakan gempa dahsyat. Ia lari keluar, namun sesampai di halaman ia melihat rumahnya digoyang gempa. Ia ingat anaknya, ia pikir anaknya sedang tidur di dalam kamar. Marni berusaha berlari ke dalam untuk membangunkan anaknya di dalam kamar, namun baru saja sampai mendekati pintu, genteng rumahnya berjatuhan tepat di depannya. Ia pun mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam rumah.

Marni menangis sambil memanggil-manggil nama anaknya untuk keluar dari rumah. Ia tidak berdaya melihat rumahnya roboh dan membayangkan anaknya tertimbun di dalamnya. Namun tidak ada yang bisa dilakukannya selain pasrah.

Sambil berdoa untuk keselamatan anaknya, Marni bersujud di halaman rumahnya. Tidak lama di antaranya, anaknya muncul di belakangnya. Anaknya ternyata tidak ada di dalam rumah saat kejadian, ia sedang di pos ronda bersama beberapa warga lainnya. Kemudian anaknya buru-buru pulang karena dia merasakan gempa dan mengkhwatirkan keselamatan ibunya. Setelah ketemu ibunya yang sedang meratapinya, mereka pun lega mengetahui semuanya selamat.

Malam itu juga Marni mengabari ke suaminya yang tengah bermalam di Tasik, bahwa rumannya hancur karena gempa. Esoknya pagi sekali Irin Ridwanto segera kembali ke Desa Sukahurip untuk melihat langsung keadaan rumahnya.

Siang harinya KBK bersama Tim Advance Disaster Management Center (DMC) Dompet Dhuafa yang dipimpin Syamsul Ardiansah berkunjung ke Desa Sukahurip melakukan pendataan cepat terhadap dampak gempa di desa tersebut.

Melihat rumah keluarga Ridwanto ini yang rusak berat, KBK menyempatkan bertanya, “Rumahnya sudah rusak berat, apa rencana bapak dan keluarga sesudah ini?”

Pertanyaan itu, dijawab Ridwanto, “Pertama, kami akan mengoreksi diri, kenapa Allah Swt menimpakan bencana ini kepada kami. Mungkin ini karena dosa-dosa kami. Kedua, kalau ada uang, kami akan perbaiki rumah kami segera. Ketiga, kalau dananya belum ada, kami akan bersabar dan memperbaikinya sedikit demi sedikit.”

“Bapak tidak berharap bantuan pemerintah?” tanya KBK. Dia jawab, ” Alhamdulillah, kalau ada. Namun, ada dan tidak ada bantuan kami tetap akan bangun kembali rumah kami sesuai kemampuan kami.”

Luar biasa memang jawaban keluarga ini.

Diinfokan Ridwanto kepada KBK, pagi itu diketahui ada dua warga RT tersebut yang luka 2 ringan, jumlah warga RT06 sekitar 49 orang. Dalam pengamatan KBK, rumah-rumah di sekitar rumah Ridwanto rata-rata mengalami rusak berat karena gempa tersebut.

Sementara itu, Tim Respon DMC Dompet Dhuafa, Ahamd Yamin melaporkan, di Desa Sukahurip ini terdapat 184 rumah rusak ringan, 93 rusak sedang dan 67 rusak berat.

“Tim menemukan sama dengan pengalaman gempa tahun 2009, korban gempa bumi yang rumahnya masih kereteria Rusak Ringan malah merusak semua rumahnya agar tidak membahayakan keluarga mereka,” jelas Ahmad Yamin.

Saat ini, lanjut Yamin, masyarakat masih menunggu pemerintah melakukan verifikasi kerusakan bangunan bahkan dari beberapa rumah yang tim respon mau membantu, namun tidak di perbolehkan karena intrksi pemerintah setempat untuk menunggu pendataan tim pemerintah.