Miris, Zaki Terbebas dari Kerangkeng Namun Terancam di Sekolah

[ A+ ] /[ A- ]

Pamarican adalah kecamatan penghasil gula nila terbaik se-Kabupaten Ciamis dan Banjar. Unggulan itu sudah dikenal baik oleh masyarakat sekitar Banjar dan Ciamis. Bukan hanya nira tetapi Kecamatan Pamarican juga terkenal dengan penghasil buah-buahan unggul seperti durian dan buah nangka cipedak.

Akan tetapi, dari hasil bumi yang melimpah dan subur tersebut, terdapat cerita pilu dari seorang anak laki-laki bernama Zaki, berumur 13 tahun. Sejak umur 8 tahun Zaki dikerangkeng oleh keluarganya. Zaki dianggap keluarga orang yang kurang waras, karena perilakunya berbeda dengan tetangga ataupun teman sebayanya. Zaki dikerangkeng agar tidak membahayakan tetangganya. Zaki terlalu aktif, bahkan penduduk sekitar sudah memvonis Zaki sebagai orang gila.

Zaki dikerangkeng menggunakan bambu layaknya sang burung yang tidak boleh keluar dari sangkar, lalu dengan keadaan seperti itu masyarakat banyak yang merasa iba dan banyak membantu keluarga Zaki merapikan rumah. Namun, nasib Zaki tetap tidak berubah, warga bukannya membebaskan Zaki malah membuatkan kerangkeng baru untuk Zaki terbuat dari besi. Sekali lagi, Zaki belum terbebas, ia masih seperti burung nuri walau sekarang kerangkengnya dari besi.

Pak Ahmad adalah salah satu guru di sekolah SLB Pamarican yang belum lama didirikan. Sekolah ini menampung anak-anak yang keterbatasan mental dan statusnya pun masih kelas jauh dari SLB Purwadadi Banjar.

Pak Ahmad guru yang sangat sayang kepada para muridnya. Baru saja sekolah ini dibuka, tidak langsung didatangi para orang tua yang menpunyai anak istimewa. Namun Pak Ahmad harus berjuang mensosialisasikan SLB ini sebagai wadah belajar bagi anak-anak yang berkondisi fisik dan mental yang berbeda dengan anak normal lainnya.

Dan begitu juga ke orang tua Zaki, Pak Ahmad menjelaskan bahwa Zaki tidak gila, dia hanya memerlukan perlakuan yang istimewa.

Sejak itulah, akhirnya Zaki terbebas dari kerangkeng besi, berkat sosilisasi dari Pak Ahmad. Zaki pun sekolah di SLB, dan tidak dikerangkeng lagi. Namun untuk sekolah, Pak Ahmad harus bolak-balik jemput antar Zaki.

Selama sekolah Zaki mulai berkembang ia mulai terkendali, ia sangat senang sekolah. Orang tua dan masyarakat sekitar rumahnya juga bahagia melihat Zaki sudah terarah dan tidak seagresif sebelumnya.

Namun di balik kebahagian itu, Jumat malam (15/12/2017) gempa seakan merenggut kebahagiaan warga dalam seketika. SLB Pamarican di mana Zaki belajar dan bermain terdampak gempa yang cukup parah dan membahayakan aktifitas belajar mengajar di SLB tersebut.

Dinding retak-retak dan atap banyak yang ambruk. Zaki sudah terbebas dari kerangkeng besinya, tetapi terancam di sekolah dan tempat bermainnya. “Semoga ada donatur yang mau membantu merenovasi atau membangun kembali SLB ini,” harap Pak Ahmad. – Narwan (Tim Respon DMC DD)