Category Archives: Bencana

Semburan Lumpur Bojonegoro Jadi Tontonan

BOJONEGORO – Semburan lumpur di Desa Jari, Kecamatan Gondang, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, masih menjadi tontonan warga yang datang dari daerah setempat maupun luar daerah, meskipun sudah ada peringatan tentang bahaya gas beracun.

Ahli Geologi: Semburan Lumpur Bojonegoro Bisa Berhenti Sendiri

BOJONEGORO – Peneliti Badan Geologi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Bandung menyatakan semburan lumpur bercampur air di Desa Jari, Kecamatan Gondang, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, bisa hilang sendiri.

“Kalau kemarau semburan lumpur bercampur air akan berhenti sendiri,” kata Peneliti Badan Geologi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Bandung Dr Igan S. Sutawidjaja, MSc., di lokasi semburan, Kamis (14/4/2016).

Lebih lanjut ia menjelaskan semburan lumpur bercampur air di kawasan setempat akan berhenti sendiri, ketika musim kemarau. Ketika hujan sudah berkurang, dan tidak ada air yang masuk ke dalam resapan tanah, maka tidak akan ada lagi semburan lumpur bercampur air.

Tapi, ketika hujan masih turun, semburan lumpur bercampur air masih akan terus berlangsung, disebabkan faktor air.

Titik Semburan Lumpur Bojonegoro Makin Besar

BOJONEGORO (KBK) – Titik semburan lumpur di Kecamatan Gondang, Bojonegoro yang tadinya ada lima titik, kini bergabung menjadi satu.

Hal itu membuat kawah semburan menjadi besar sekitar berdiameter 6 meter. Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan Polisi memasang garis pembatas.

Semburuan lumpur terdapat kandungan gas H2S (hidrogen sulfide) yang dapat membahayakan kesehatan warga sekitar, selain itu, area disekitar semburan tersebut juga rawan longsor.

Dikatakan warga sekitar, dua hari kemarin terjadi ledakan yang mengakibatkan lima titik semburan lumpur menjadi satu titik dan berdiameter cukup besar.

Di sisi lain, Bupati Bojonegoro, Suyoto, sudah melaporkan masalah semburan lumpur itu ke pihak UPN Jogjakarta untuk dilakukan penelitian, namun hasilnya dikatakan tidak membahayakan warga.

Namun menurut berita SurabayaNews, informasi di lapangan sangat berbeda, warga terlihat semakin resah karena area persawahan mereka terkena lumpur dan membuat tanaman padi mereka menjadi layu.

Lereng Gunung Argopuro Longsor Timbun Rumah Warga

PROBOLINGGO (KBK) – Hujan deras disertai angin kencang membuat lereng Gunung Argopuro di Kabupaten Probolinggo longsor menimpa rumah penduduk, Selasa sore (12/4/2016).

Dilaporkan, dua toko oli dan bensin milik Handoko, hancur tertimbun material longsor tebing setinggi delapan meter.

Tebing tersebut tepat berada di dekat pemukiman warga Desa Tiris, Kecamatan Tiris, Kabupaten Probolinggo Jatim.

Kerugian dari kejadian ini ditaksir mencapai belasan juta rupiah, toko dan isinya rusak parah.

Warga sekitar yang rumahnya dekat dengan lokasi kejadian, memilih untuk megungsi ke tempat yang lebih aman.

“Hujan deras disertai angin terjadi semalaman dan tiba-tiba tebing longsor mengenai warung dan bengkel warga. Alhamdulillah tidak ada korban jiwa, “ kata Abdul Azis, warga setempat mengisahkan kejadian itu.

Seperti diberitakan SurabayaNews, menghindari jatuhnya korban, Kapolsek Tiris, AKP Wijaya menghimbau warga yang tinggal di daerah tebing tersebut untuk tetap waspada.

Atasi Banjir Melong, Cimahi Dibantu Pemprov dan Pusat

CIMAHI – Banjir di Kawasan  Melong yang belum teratasi, akhirnya dibantu Pemprov Jabar dan pemerintah pusat.

“Sesuai pembahasan bersama, penangan banjir Cimahi, Pemprov Jabar dan pemerintah pusat ikut membantu,” kata Wali Kota Cimahi Atty Suharti, Ahad, (10/4/2016)

Pemprov. Jabar menyiapkan anggaran Rp 40,1 miliar,  digunakan untuk rehabilitasi Sungai Cilember dan Cibeureum; masing-masing Rp 15 miliar.

Untuk penyediaan sumber air baku dan kolam retensi sebesar Rp 5 miliar yang seluruhnya dipenuhi oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Dirjen PSDA.

Menurut Atty, sudah ada detail engineering design (DED) untuk infrastruktur hingga perbatasan Melong.

Penanganan banjir Melong selama ini tidak pernah tuntas karena tidak ada saluran air lanjutan.

“Batas daerah dengan Kab. Bandung, kalau saluran air dibuka maka bisa mengakibatkan banjir di daerah lain. Makanya butuh perhatian provinsi dan pusat,” tuturnya seperti dikutip KBK dari Pikiran Rakyat.

Banjir Bandang Pakistan, 92 Tewas dan 23 Masih Hilang

ISLAMABAD (KBK) – Banjir bandang yang menghantam Provinsi Khyber Pakhtunkhwa, Pakistan, akhir pekan lalu masih menyisakan duka bagi warganya.

Tim penyelamat hingga Rabu (6/4/2016) masih mencari 23 korban yang tertimbun longsor di pegunungan wilayah utara.

Sementara jumlah korban tewas akibat hujan luar biasa deras meningkat menjadi 92 orang.

Sebagian besar korban tewas dan kerusakan akibat banjir bandang dan longsor berada di Provinsi Khyber Pakhtunkhwa.

Pejabat pemerintah Provinsi Khyber Pakhtunkwa Abdul Latif mengatakan 65 orang tewas dan 929 rumah rusak atau hancur akibat hujan dan banjir yang mendera provinsi itu.

“Di bagian puncak Bukit Kohistan, sekitar 200 km utara ibu kota, Islamabad, 23 orang terkubur lumpur sedalam 40 meter,” kata Latif.

Ia juga menambahkan, dua mayat dan lima korban cedera berhasil ditemukan dari longsoran

Dikatakan Latif, jalan yang tertutup longsor akan membutuhkan waktu lama untuk membersihkannya.

“Setelah akses jalan bersih, tim kami bisa melihat dari rumah ke rumah dan memetakan kerusakan,” kata Latif.

Seperti diberitakan Reuters, banjir bandang ini juga menyebabkan kerusakan di wilayah lain di Pakistan.

Sebanyak 12 orang dilaporkan tewas di Kashmir wilayah Pakistan, dan 15 orang tewas di kawasan Gilgit-Baltistan.