Category Archives: Bencana

Dari Tol Cikampek Respon Gempa Tasikmalaya itu Dimulai

Tim Disaster Management Center (DMC) Dompet Dhuafa; Syamsul Ardiansah (Direktur), Farida (Recovery), Ato Parta (Driver), Ardi (Recovery), Camelia (GA) dan KBK yang ikut dalam rombongan baru sampai di KM 60 Tol Cikampek menuju Cirebon, Jumat malam (15/12/2017), Pukul 23.45 WIB. Smartphone tim DMC sama-sama bergetar, ternyata di setiap HP sudah terinstall aplikasi dari BMKG yang ketika ada bencana langsung memberikan peringatan.

“Gempa mas, di Tasikmalaya 7,3 SR (kemudian direvisi BMKG dengan 6,9 SR-Red) dan berpotensi Tsunami,” kata Ardi kepada Syamsul. Serta merta Syamsul melihat HPnya dan ternyata benar, selain dari BMKG, berbagai informasi dari jejaring relawan sepanjang pantai selatan Pulau Jawa mulai masuk. Ada yang mengatakan Tsunami udah mulai, penduduk sudah melihat ombak setinggi 6 meter.

Syamsul sebagai Direktur DMC memantau seluruh informasi apapun yang masuk tentang info bencana ini, kemudian langsung mengontak Manager Respon DMC Fadillah Rahman yang sedang cuti, karena kondisi darurat dia diminta untuk membatalkan cutinya segera untuk tanggap dan memberikan arahan kepada tim guna melakukan respon yang diperlukan sepanjang pantai selatan dan memverifikasi setiap laporan yang masuk agar diketahui informasi yang sebenarnya dan mana yang hanya hoax.

Disater Manajemen Center (DMC), Dompet Dhuafa, membagi 3 tim respon untuk menyisir wilayah bencana gempa yang menimpa laut selatan Jawa yang berpusat di Tasikmalaya.

Tidak lama berselang, Tim Respon memberikan laporan hasil koodinasi mereka. Dilaporkan kepada Syamsul, bahwa tim respon dibagi menjadi tiga tim; Tim pertama akan menyisir wilayah Pengandaran dengan koordinator Narwan, Cipatujah dikoordinasi Ahmad Yamin, Garut disisiri oleh Sanadi.

Tim Advance ini, kata Syamsul, bertugas untuk melihat kebutuhan warga terdampak dan langsung memberikan respon awal.

“Setelah itu, tim ini akan melaporkan hasil tinjauannya ke posko pusat untuk pertimbangan memberi respon yang lebih luas. Tim lapangan yang bertugas langsung update secara realtime melalui aplikasi online. Dari hasil laporan mereka Komando dapat mengambil kesimpulan bantuan apa yang dikirim untuk membantu korban bencana dan sekaligus membuat posisioning di wilayah mana DD akan konsentrasi membantu bencana ini,” terang Syamsul.

Untuk sementara Syamsul sudah tenang karena tim sudah siap untuk terjun memberikan respon dan segera berangkat malam itu juga. Kini ia memantau melalui media yang ada melihat informasi perkembangan gempa yang ternyata dirasakan di sepanjang garis pantai pesisir selatan pulau Jawa.

Mobil tim terus melaju menuju Cirebon dan Syamsul memutuskan untuk istirahat dulu di sebuah penginapan untuk saving energi persiapan Acara Serah terima bantuan 1 unit instalasi pemanen air hujan yang diperuntukkan untuk warga Keluarahan Kalijaga, Kecamatan Harjamukti, Kota Cirebon, Jawa Barat, Sabtu (16/12/2017) di MI Darul Ulum.

Esok harinya Pukul 7.30 WIB acara itu dimulai dan tidak berlama-lama penyerahan bantuan instalasi air dilaksanakan sesegara mungkin. Pukul 10.30 penyerahan itu selesai, Syamsul memutuskan untuk mendukung tim respon menyisir wilayah gempa yang terdekat dari Cirebon.

“Kita langsung menuju Tasik, Ciamis dan Garut,” ungkap Syamsul.

Dia berharap dengan melihat langsung ke lapangan segera dapat memberikan tindakan untuk membantu korban. Pagi itu data sementara yang berseliweran di media sudah ada 2 orang yang tewas karena tertimpa bangunan roboh karena gempa semalam.

Menjelang keluar dari Cirebon, tim bergabung dengan Resdha relawan DMC dari Jawa Barat. Ialah akhirnya yang jadi penunjuk jalan dari Cirebon menuju Kuningan, Pengandaran dan Ciamis.

Tepat Pukul 15.30 Wib rombongan sampai di Desa Ciparakan, RT06 RW03 Kecamatan Pamarican, Kabupaten Ciamis, depan Masjid Al Hidayah. Di sinilah Posko Induk respon bencana yang didirikan Badan Penanggulanan Bencana Daerah (BPBD) Ciamis. Di Posko Induk Ciamis BPBD mendirikan 4 tenda: dua untuk pengungsi, satu tenda untuk dapur umum dan satu tenda layanan kesehatan.

Di Posko inilah, kata Jajang, salahsatu staf BPBD Ciamis menyatakan kepada Tim Advance DMC Dompet Dhuafa Bupati Ciamis Drs. Iing Syam Arifin menetapkan status darurat untuk 7 hari ke depan, setelah meninjau kondisi korban gempa, di mana banyak rumah mereka yang rusak berat akibat gempa.

Di Posko Ini sudah ada relawan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Ciamis, Tagana dari Kementerian Sosial, Kepolisian dan relawan kesehatan. Mereka sudah bergerak membuka layanan Dapur Umum, Layanan Kesehatan dan Tenda Pengungsian.

Menurut informasi dari Baihaki, 32 tahun, Ketua Karang Taruna Desa Sukahurip, warga Sukahurip memang belum ke pengungsian karena masih sibuk mengamankan barang-barang mereka. Tapi untuk makan siang mereka sudah datang ke posko secara bergantian menjemput ransum untuk keluarga mereka. “Baru malam nanti mereka akan nginap di tenda pengungsian ini,” ungkap Baihaki.

Di papan pengumuman Posko Induk itu, tertulis laporan 17 kecamatan di Ciamis yang terdampak dengan data sementara 667 rumah rusak dengan berbagai kondisi; berat dan ringan.

“Sampai saat ini laporan korban dan rumah rusak masih terus masuk,” ungkap Jajang.

Setelah koordinasi di Posko Induk, Syamsul dan tim DMC lain didampingi Baihaki untuk melihat rumah-rumah yang terdampak gempa di Desa Sukahurip itu. Di RT06 RW banyak rumah yang hancur dan tidak layak huni. Di kawasan RT ini ada 49 warga yang terdampak dengan beberapa orang yang luka karena tertimpa material bangunan. Namun mereka sudah mendapat layanan kesehatan dari tim kesehatan setempat.

Setelah di RT06, Tim menyeberang ke RT01 RW01 di sana tim mendapati Masjid Al Ikhlas yang rata dengan tanah dan beberapa rumah yang rusak berat juga. Setelah melihat kondisi korban gempa di Ciamis ini Syamsul berpendapat, persoalan pangan kayaknya tidak masalah, meski di Posko Induk logistik hanya tersedia untuk dua hari, karena tidak ada akses yang terputus bantuan pangan tidak akan terganggu.

“Karena kebanyakan rumah penduduk tak layak huni, yang dibutuhkan mendesak adalah hunian sementara sampai rumah mereka dibangun kembali, ” terang Syamsul.

Untuk itu, lanjut Syamsul, Dompet Dhuafa akan fokus untuk membangun hunian sementara tidak jauh dari rumah masing-masing warga terdampak gempa, sampai pendataan kerugian dan biaya yang dibutuhkan untuk membangun kembali rumah-rumah mereka semakin jelas dan rumah mereka dibangun kembali.

“Huntara dibutuhkan karena tidak mungkin pengungsi lama-lama berada di tenda, apalagi saat ini musim hujan sementara sampai rumah mereka selesai dibangun akan membutuhkan waktu,” urai Syamsul.

Malam semakin gelap dan hujan yang turun menjelang magrib tadi pun mulai reda, ketika azan isya berkumandang di Masjid Al Hidayah satu per satu pengungsi mulai berdatangan ke Posko Induk itu. Sesudah isya, Tim Relawan DMC pun menyempatkan diri mengganti terpal untuk alas tidur di tenda pengungsi yang sudah basah akibat rembesan air hujan bersama BPBD Ciamis, setelah itu tim melanjutkan perjalanan menembus malam menuju Tasik dan Garut untuk menyisir lokasi pengungsian yang lain.

Jumlah Tewas Gempa Meksiko Jadi 119 Warga

MEKSIKO – Dilaporkan akibat gempa berkekuatan 7,1 skala richter (SR) telah menewaskan 119 warga Meksiko tengah.

“Guncangan yang terjadi Selasa (19/09/2017) melanda kawasan Atencingo delapan kilometer sebelah tenggara di negara bagian Puebla, sekitar 120km dari ibu kota, Mexico City,” laporan US Geological Survey (USGS).

Sejumlah bangunan roboh dan rata dengan tanah menjadi gundukan puing-puing, sebagian lagi rusak parah.

“Sebanyak 138 orang telah kehilangan nyawa mereka,” ungkap direktur layanan perlindungan sipil pemerintah, Luis Felipe Puente, mengatakan kepada jaringan televisi Televisa.

Dia mengatakan, ada 36 orang tewas di Mexico City dan sisanya di bagian selatan dan barat.

Di Negara Bagian Morelos, tepat di sebelah selatan ibukota, dilaporkan 64 tewas.

Negara bagian Puebla, di titik pusat gempa melanda, dilaporkan 29 orang tewas. Dan sembilan orang lainnya tewas di negara bagian Meksiko, yang terletak persis di sebelah barat Kota Meksiko.

Dilaporkan Al Jazeera, Bandara Internasional berhenti operasi dan sedang memeriksa fasilitas untuk kerusakan apapun.

Ratusan Rumah Dihantam Banjir Bandang di Solok Selatan

PADANG – Ketika beberapa wilayah dilanda kekeringan, berbeda dengan Solok Selatan, Sumatera Barat justru dilanda banjir bandang.

Sedikitnya empat jorong (dusun) di Nagari Pakan Rabaa Tengah, Kecamatan Koto Parik Gadang Diateh, Kabupaten Solok Selatan, Sumatera Barat dilanda banjir Bandang. Akibatnya ratusan rumah dan jalan tertimbun lumpur dan batang kayu yang terbawa banjir.

“Banjir ini datang tadi malam saat kami sedang rapat di Masjid Darus Salam. Tiba-tiba suara gemuruh dari sungai, akhirnya saya bubarkan rapat itu dan menghubungi camat, polsek dan koramil bahwa telah terjadi banjir bandang di tempat kami,” kata Wali Nagari Pakan Rabaa Tengah, Zulfikar Erawandi, Jumat (15/9/2017).

Banjir bandang yang terjadi sekitar Pukul 20.30 WIB itu mengakibatkan sekira 300 rumah dipenuhi air dan lumpur setinggi 75 sentimeter. Tak hanya itu, jalan lintas Sumatera pun penuh lumpur setinggi 4o sentimeter.

“Kami butuh alat berat untuk membersihkan jalan agar bisa akses. Selain itu juga mesin kayu untuk memotong kayu-kayu yang telah menutupi saluran air di bawah jembatan,” tambah Zulfikar.

Lainnya yang dibutuhkan, tambah Wali Nagari, adalah bantuan makanan untuk para korban banjir bandang yang rumahnya rusak dan dipenuhi lumpur.

“Ada memang rumah warga yang mengalami rusak berat setelah dihantam gelondongan batu-batu dan kayu, tapi kita masih melakukan pendataan,” terangnya.

Bantuan yang sudah masuk dari pemerintah kabupaten dan provinsi berupa terpal, selimut, tikar untuk tempat tidur warga. Selain itu pihaknya juga sudah berkoordinasi dengan Dinas Sosial Solok Selatan untuk membuat dapur umum.

“Bahan makanan masyarakat sudah terendam serta alat masaknya sudah tertimbun lumpur. Belum kami ketahui korban jiwa namun tim BPBD dan DPD terkait sudah datang sejak tadi malam,” katanya.

Seperti dilansir OkeZone, menurut Zulfikar, daerahnya sebenarnya sudah puluhan tahun terbebas dari banjir bandang. Namun saat ini, kondisi lingkungan di sekitar wilayahnya memang memprihatinkan.

Dompet Dhuafa bantu Korban Kebakaran Bendungan Hilir

JAKARTA – Lembaga Pelayan Masyarakat (LPM) Dompet Dhuafa,  Ahad (10/9/2017) membantu warga Bendungan Hilir (Benhil), Jalan PAM Lama, RT 015/06, Benhil, Tanah Abang, yang rumahnya terbakar Sabtu (9/9/2017) sore.

Disampaikan Lukman dari LPM, ada sekitar 67 KK yang kehilangan tempat tinggal karena kebakaran puluhan rumah ini. Saat ini 217 jiwa harus mengungsi.

“Pemberian bantuan untuk korban kebakaran yang langsung diterima oleh ibu lurah bendungan hilir, berupa kebutuhan bayi dan balita, diantaranya : Susu, Minyak telon, sabun bayi, bedak bayi dan baju bayi” ungkap Lukman kepada KBK, Senin (11/9/2017).

“Sudah ada bantuan berdatangan namun untuk kebutuhan bayi dan balita masih sangat kurang jadi kita putuskan untuk distribusi bantuan yang berfokus kebutuhan bayi dan balita karena mereka masih sangat rentan” lanjut Lukman selaku penanggung jawab respon LPM

Dikutip dari kompas.com banyak warga yang tak sempat menyelamatkan barang berharganya lantaran api begitu besar sehingga cepat membakar bangunan-bangunan yang ada.

Sulastri (44), mengaku hanya dapat membawa baju yang ia kenakan saat ini. “Enggak sempat selamatin, api cepet banget, tadi pemadam juga telat dateng,” ujarnya.

Ia pun hanya bisa pasrah atas kejadian ini. Namun, ia berharap ada bantuan yang diberikan kepadanya dan para korban lain.

Penyebab kebakaran sendiri sementara diduga dari pembakaran sampah.

Untuk bantuan lanjutan Lukman mengatakan bahwa akan mengadakan pendampingan terhadap ibu hamil dan menggelar Trauma Healing untuk anak-anak.
“kedepannya kita akan melakukan pendampingan dan Trauma Healing untuk anak-anak dan ibu hamil” tutup Lukman. – Taufan LPM DD

Dompet Dhuafa Bantu Korban Kebakaran Pondok Labu

JAKARTA – Lembaga Pelayan Masyarakat (LPM) dan Disaster Management Center (DMC) Dompet Dhuafa, membantu warga Jalan Haji Ipin, Pondok Labu, Jakarta, yang rumahnya terbakar, Jumat dini hari (18/8/2017).

Disampaikan Taufan dari LPM, ada sekitar 50 kk yang kehilangan tempat tinggal karena kebakaran puluhan rumah ini. Saat ini 200 jiwa harus mengungsi.

“Bantuan mulai berdatangan, LPM Fokus pada popok bayi dan obat-obatan untuk balita seperti minyak kayu putih, minyak telon dan lainnya,” ungkap Taufan.

Menurut keterangan Joni (42), Ketua RT 04, Jl. H. Ipin, belum banyak bantuan yang diterima, baru ada baju bekas itupun dari swadaya warga. Mereka masih kekurangan popok bayi dan obat-obatan untuk anak karena belum ketauan berapa hari mereka harus mengungsi di tenda.

Sambas (43) mengatakan, kebakaran terjadi dan meluas sangat cepat dan mereka tidak punya kesempatan menyelamatkan barang-barannya.

“Semua ludes terbakar, ya butuh popok dan obat-obatan untuk 2 anak saya yang masih balita,” kata Sambas berprofesi sebagai kuli puing bangunan.

Dikutip dari Liputan6, sejauh ini penyebab kebakaran masih dalam penyelidikan. Namun, diduga api berasal dari korsleting listrik.

Meski tidak merenggut korban jiwa, tidak kurang dari 30 rumah petak yang ada ludes terbakar. Kini warga mengaku bingung akan tinggal dimana.

Sementara itu, api baru berhasil dijinakkan satu jam setelah petugas menerjunkan sembilan unit mobil pemadam kebakaran.

Sementara itu, DMC Dompet Dhuafa juga mendistribusikan 2 dus pakaian layak pakai dan 8 unit kelambu bayi, Jumat (18/8/2017).

DD Banten Gerak Cepat Bantu Korban Kebakaran Leuwidamar

BANTEN – Tim Program Dompet Dhuafa Banten (DD Banten) bergerak cepat membantu korban kebakaran di Kp. Kalangjaya, Ds. Cisimeut, Kec. Leuwidamar, Kab. Lebak selasa malam (1/8/2017) yang menghanguskan 9 rumah rata dengan tanah dan mengakibatkan 30 anggota keluarga mengungsi.

Dikisahkan Mokhlas Pidono, Manager Program DD Banten, Kamis (3/8/2017), setelah menempuh perjalanan selama 4 jam dari Serang, Tim Program DD Banten tiba di lokasi Rabu Sore dengan membawa kebutuhan logistik yang menjadi kebutuhan mendesak saat ini.

“Berdasarkan info dari relawan yang melakukan survey kebutuhan, ternyata yang mendesak saat ini adalah bahan makanan dan pakaian, semoga apa yang kami bawa bisa meringankan korban kebakarn, ” ujar Mokhlas Pidono, Manager Program DD Banten.

Di lapangan diketahui, menurut saksi kebakaran yang diduga bermula dari korsleting listrik berasal dari rumah yang posisinya berada di tengah perkampungan, sekitar Pukul 20.30 WIB, beruntungnya rumah sedang dalam keadaan kosong.

Namun karena angin musim kemarau berhembus kencang dan rumah pun berbentuk rumah panggung sehingga memudahkan api menyebar, warga pun kesulitan memadamkan.

Saepudin ketua RT sekaligus juga korban mengatakan, para korban berharap pemerintah membangunkan kembali rumah para korban. Saat ini bantuan paling mendesak dibutuhkan adalah makanan. Sedangkan dari BPBD Lebak baru membantu tenda dan peralatan mandi.

“Kami berterimakasih kepada donatur dan Dompet Dhuafa Banten atas bantuan ini,” tutur Saepudin.

Sementara itu, Kaprawi dari BPBD Lebak mengatakan, pemerintah daerah berjanji akan membantu korban seluruh unsur masyarakat terkait.

“Kita bahu membahu untuk membantu warga korban kebakaran ini, baik pemda, swasta, maupun warga lokal,” ucapnya menambahkan.

Kepedulian seluruh elemen masyarakat tentu akan memudahkan dan meringankan beban korban kebakaran di Leuwidamar ini.

Foto-Foto:

Bantuan DD Banten untuk korban kebakaran. Foto: DD Banten

LEBAK – Sekitar 9 rumah terbakar di Kampung Kalang Jaya, Desa Cisimeut, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, sekira pukul 21.00 WIB, Selasa (1/8/2017).