Category Archives: Citizen Journalism

Pendidikan dan Tentang yang Belum Usai

Jika bicara pendidikan mungkin tidak akan pernah habis-habisnya. Ibarat sebuah jalan – pendidikan tersebut tidak akan pernah berujung. Namun apabila pendidikan – aliran sungai yang mengalir dari hulu ke muara, kemudian berakhir di laut lepas. Barang tentu air tersebut sudah mengalir dengan ribuan bahkan jutaan kali terhempas pada bebatuan, tebing, dipaksa berbelok dikarekan harus mengikuti bentuk wadah yang ia tempati.

Begitu rintangan yang harus dihadapi oleh air hingga ia menetap dalam sebuah kedamaian. Pendidik tidak jauh berbeda dengan hal ilustrasi di atas. Perjuangan yang dilakukan oleh seorang pendidik yang biasa dipanggil guru. Mempersiapkan terlebih dahulu segala tanggung jawab seperti RPP (Recana Pelaksanaan Pembelajaran), memahami materi ajar, dan membuat media pembelajaran.

Hadirnya program pendampingan pengoptimalan pendidikan di SDN 12 Sokop Lokal Jauh yang terletak di Dusun Bandaraya, Desa Sokop, Kecamatan Rangsang Pesisir, Kabupaten Kepulauan Meranti, Provinsi Riau. Salah satunya bertujuan untuk membantu para guru mengatasi tanggung jawab yang membebaninya. Membimbing guru untuk sanggup mengajar dengan enjoy dan menyenangkan bagi siswa.

Pada hari Jum’at dan Sabtu, (25-26/8) telah dilaksanakan Pelatihan Guru Tahap 2 dengan materi POBK (Penilaian Otentik Berbasis Kelas) dan Media Pembelajaran Sederhana. Pelatihan itu langsung diisi oleh Konsulatan Relawan Sekolah Literasi Indonesia Makmal Pendidikan Dompet Dhuafa saudara Redovan Jamil.

Pelatihan berlangsung menyenangkan. Di hari pertama diikuti oleh 13 peserta yang terdiri dari 10 guru sekolah induk dan 3 guru dari lokal jauh. Para guru sekolah induk dan lokal jauh langsung berbaur dalam kelompok memecahkan beberapa permaian yang diberikan oleh trainer pada hari itu. Pada sesi usai istirahat salat Jum’at, peserta membuat instrumen unjuk kerja perkelompok. Terlihat para guru kocar-kacir berkerjaran dengan waktu untuk menuntaskan tugasnya.

Hari kedua tidak kalah serunya. Pelatihan dengan materi Media Pembelajaran Sederhana tersebut sangat dinikmati oleh para guru. Walaupun beberapa guru harus berbagi waktu untuk bolak-balik masuk ruangan pelatihan dikarenakan ada agenda lain yaitu sosialisasi pilkades. Namun beliau bersedia kembali mengikuti pelatihan pada sesi setelah istirahat. Layak untuk mendapatkan apresiasi yang tinggi dari usaha dan keinginan seorang guru untuk mengikuti pelatihan tersebut.

Namun seribu kali sayang, ada sesuatu hal yang menganjal dikala itu. Sang kepala sekolah belum terlihat bergabung mengikuti rangkaian materi selama dua hari pelatihan. Usai membuka pelatihan di hari pertama, beliau memilih untuk mencari kesibukan di ruang kepala sekolah.

Bicara pendidikan tidak akan pernah usai. Lengkap dengan asam. asin, manis, serta pahitnya. Namun kita sebagai seorang pendidik yang berjuang untuk mencerdaskan anak bangsa, janganlah mengurungkan niat untuk tetap berdiri tegap. Mari tegakkan kepala, busungkan dada, menyongsong masa depan yang cerah untuk anak pertiwi.

“Pendidikan bukanlah segala-galanya, tapi segala-galanya berawal dari pendidikan”, Fajar Fitriadi, Ketum Imakipsi 2015-2017.

Ditulis oleh Redovan Jamil, Utusan Makmal Pendidikan di Pulau Meranti

Warna-warni Anak Mualaf di Kepulauan Meranti

Di dunia ini ada beraneka warna yang membuat kita terpukau memandangnya. Warna itu ada tujuh rupa. Merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, dan ungu. Di langit, kala hujan disertai sinar matahari, kita akan menyaksikan indah pelangi yang dikombinasikan oleh ketujuh warna yang ada di bumi ini. Sungguh indah di pandang, namun hanya sejenak. Harapan kita, semoga warna kehidupan yang kita jalani saat ini memiliki warna yang indah, tapi tidak bersifat sementara.

Di sini, di dusun Bandaraya tepatnya, di huni oleh minoritas agama Islam. Dari 66 kepala keluarga di dusun ini hanya 2 kepala keluarga yang menganut agama Islam. Ditambah dengan 7 anak-anak mualaf. Anak-anak ini dimualafkan pada tanggal 23 Februari yang lalu. Pada saat peresmian Mesjid Darul Islami Madani. Hingga saat ini lebih kurang dusun Bandaraya di huni oleh 15 orang yang beragama islam.

Minoritas bukan harga mati. Secercah cahaya pun sangat berguna sebagai penerang di kala kegelapan, setetes embun juga bisa menyejukkan dahaga bagi ulat, burung dan binatang sejenisnya. Begitu juga yang dirasakan anak-anak mualaf. Saya selaku KAWAN SLI berperan penuh untuk memberi warna ramadhan kali ini. Memang benar sebelumnya belum pernah ada kegiatan salat tarawih dan witir berjamaah di dusun ini. Warga yang menganut agama islam terpaksa salat tarawih dan witir di mesjid desa sebelah yang cukup jauh.

Kali ini dusun Bandaraya penuh warna serta cahaya. Anak-anak mualaf bersemangat untuk menunaikan ibadah puasa. Mereka hampir 24 jam tinggal bersama saya. Menu sahur serta berbukanya saya yang menyediakan. Saya yang hanya baru dipenempatan ini belajar memasak harus cekatan untuk menyajikan menu yang spesial untuk anak-anak. Berusaha keras agar anak-anak menikmati masa berbuka serta sahurnya.

“Pak, saya air susunya yang pake gelas besar, Pak”, ujar Amzah dengan wajah tidak sabaran untuk berbuka. “Kenapa? Yang lain memakai gelas kecil”, kilah saya tidak sepakat. “Gelas kecil mana cukup, Pak. Minum saya banyak”, lantas ia tidak terima. Singkat cerita saya mengalah, membiarkan Amza minum dengan gelas besar. Ia pun mengambil sederet makanan yang disajikan ke hadapannya. Seolah-olah makanan itu adalah milik dia. Dan akan habis ia lahap sekali duduk saja. Saya hanya memerhatikannya dengan tersenyum sembari memahami.

Tidak kalanya dengan 4 orang anak mualaf lainnya. Mereka juga berpendapat semua makan yang dihidangkan kala berbuka itu akan habis ia lahap. Detik berbilang menit, waktu berbuka telah tiba. Di awali dengan membaca doa berbuka secara bersama, satu persatu anak-anak mualaf sudah menyerbu makanan yang dihidangkan. Menyantap dengan cara acak, tidak terpungkiri celoteh sana-sini antara mereka.

Mereka akhirnya kekenyangan. Saya mengajak mereka salat magrib berjamaah. Pertama ia protes, meminta untuk salat sendiri-sendiri saja. Saya tidak terima, resiko sendiri kenapa berbukanya terlalu berlebihan. Sesuap nasi pun belum masuk ke perut mereka, hanya air es serta beraneka macam menu berbuka. Tapi sudah kekenyangan.

Seusai salat magrib, I’som berdiri. Terdengar bunyi air di dalam perutnya yang berkeciprak. Sontak kami semua tertawa. Ia pun ikut tertawa. “Besok jangan terlalu banyak minum esnya. Sisakan di lambungmu untuk sepiring nasi!” mereka tetap tertawa, tapi mengiyakan apa yang saya sampaikan.

Warna-warni ramadhan terus berlanjut. Saat anak-anak dianjurkan untuk belajar ceramah singkat 7 menit. Kali ini Amza berani tampil paling pertama. Anak kita yang satu ini memang punya nyali yang luar biasa. Ia berceramah seolah berlagak ustads dengan judul “Rukun Islam”. Malam itu berakhir dengan salat tarawih dan witir yang saya imami langsung.

Sebenarnya lucunya bukan sesi ceramah itu sendiri. Tapi pada saat puasa hari pertama. Malamnya kami tidak sempat sahur karena alarm yang saya atur tidak berbunyi. Atau memang belum terbiasa bangun jam segitu dan akhirnya tidak terbangun. Siang harinya anak-anak sudah merasakan lapar semenjak pukul 10 pagi. Mereka merengek-rengek untuk mengurungkan berpuasa. Namun saya terus menghibur mereka dengan berbagai candaan.

Waktu ashar telah tiba. Amzah bertugas menjadi bilal. Ia azan dengan khitmahnya. Namun tanpa dikata, tidak diduga-duga sebelum ia menyelesaikan tugasnya manjadi bilal, ia tersungkur ke depan. Terkapar di lantai. Saya panik dan segera menghampiri. Beberapa detik matanya terpejam. Lalu saya mencoba mengangkat tubuhnya, “hitam pandangan saya, Pak”, sambil ia tertawa. Kami langsung ketawa secara bersamaan. Azan azhar kali ini tidak selesai seperti azan-azan sebelumnya.

Warna warni itu selalu ada sampai puasa yang hanya tinggal beberapa hari lagi. Celoteh anak-anak waktu berbuka masih terdengar riuh. Saat sahur pun tidak kala menyenangnya, berbagai tingkah anak-anak yang sulit untuk dibangunkan. Sampai-sampai saya menggelitik pinggangnya hingga terbangun.

Cek-cok antara mereka akan terus mengudara di seantero Bandaraya ini. Pertengkaran kecil mereka yang tidak terima selalu bertugas mencuci piring setiap usai berbuka dan sahur. Walau sebenarnya jadwalnya sudah disepakati jauh-jauh hari sebelumnya. Ah..sampai kapan aku menikmati riuh canda mereka. Pertengkaran yang merindukan untuk esok hari.

”Terus tumbuh, Nak. Kelak kamu adalah pemimpin dakwah di dusun ini. Teruslah berpegang teguh pada agama kita, meski bagimu ini adalah hal yang baru. Saya yakin kamu akan menebarkan kebermanfaat umat kelak. Amin” pekikan cinta saya ketika gelap melanda diri dikarenakan waktu lampu menyala telah berakhir.

Redovan Jamil, Kawan Sekolah Literasi Indonesia, Makmal Pendidikan Dompet Dhuafa, bertugas di Pulau Ransang, Kabupaten Kepulauan Meranti.

Sambut Ramadhan, LPM DD Bersih-Bersih Rumah Ibadah

BEKASI– Menyambut bulan suci Ramadhan 1438 H, Lembaga Pelayan Masyarakat Dompet Dhuafa melakukan bersih, benah mushola di Jabodetabek.

Program ini bertujuan untuk membersihkan dan membenahi mushola yang kurang layak menjadi mushola yang nyaman dipakai untuk beribadah khususnya di bulan Ramadhan.

Sejauh ini sudah ada 2 mushola yang menerima manfaat program ini yaitu, Musholla At-Taubah Jl. Sunan giri Prapatan Mega, Rawamangun, Jakarta Timur dan Mushola Arrahman Jl. Raya Pekayon Bekasi.

“Kegiatan ini sangat positif dan bisa menginspirasi banyak orang, output dari kegiatan ini kita harapkan mushola yang tadinya kurang layak dan nyaman menjadi mushola yang nyaman untuk dipakai beribadah di bulan suci Ramadhan,” ucap Robbi Sunandar selaku pelaksana program di daerah Bekasi

Menurut informan kami di lapangan, Mushola Ar-Rahman Bekasi kondisinya sangat kumuh dan kurang nyaman dipakai untuk beribadah. Kondisi ini sangat disayangkan karena mushola ini masih sering dipakai untuk sholat berjamaah oleh warga sekitar maupun para pedagang.

Alhamdulillah setelah dilakukan aksi bersih dan benah mushola, kondisi mushola menjadi lebih nyaman untuk beribadah.

Hal senada juga diungkapkan Nur Riyadi (45) selaku muadzin mushola tersebut.

“Saya ucapkan terimakasih banyak karena sudah peduli dengan mushola ini, alhndulillah sekarang kondisinya menjadi lebih nyaman untuk beribadah setelah adanya program ini,” ungkapnya.

Dia berharap program ini dapat berlanjut karena manfaatnya sangat terasa khususnya meningkatkan kenyamanan beribadah di bulan suci ramadhan.

Kembali dikatakan Robbi, ke depannya akan ada beberapa mushola lagi yang akan menerima manfaat program ini, dan semoga menjadi inspirasi dan memunculkan program-program serupa.  – Taufan, LPM Dompet Dhuafa

Karantina Para Penghapal Quran di Gunung Kidul

GUNUNG KIDUL – Karantina Tahfidz Quran yang diinisiasi oleh Dompet Dhuafa Jogja berlangsung di kampong Ngasemayu yang bernuansakan perdesaan dengan kondisi alam pegunungan yang masih ijo royo-royo.

Kampong ini berada di kelurahan Salam kecamatan Patuk Gunungkidul. Sedangkan kegiatan Karantina Tahfidz Quran dipusatkan di Masjid Al-Ijtihad.

Sementara tempat istirahat peserta selama 3 hari, berada di rumah warga yang sederhana. Fasilitas tempat tidur berupa tikar yang digelar diruang pendopo dan dipakai secara bersamaan oleh para peserta.

Rangkaian kegiatan KTQ di mulai hari Jumat, 14 April 2017 dan berakhir Ahad, 16 April 2017 meliputi kegiatan menghafal, motivasi tahfidz, setoran hafalan, murojaah dan qiyamul lail.

Hari Kamis, 13 April pukul 22.00 peserta dari Rumah Tahfidz Al-Kautsar Yogyakarta sampai di lokasi KTQ , sementara peserta dari PP Saubari Bening Hati Semarang baru sampai di lokasi pkl. 24.30. Keseluruhan jumlah peserta KTQ 28 orang santri, didampingi 4 Ustadz. Ust. Teguh Ghozali Al-Hafidz, Ust. Rusmanto Al-Hafidz, Ust. Genri dan Ust. Sigit.

Karantina Tahfidz Quran diselenggarakan di lingkungan perdesaan yang serba terbatas. Tempat istirahat lantai beralaskan tikar yang dipakai secara bersama-sama.

Persediaan air dan tempat MCK yang minim, sajian makanan yang apa adanya khas masakan orang dusun. Bagi santri, KTQ dengan kondisi yang serba sederhana bertujuan, menambah hafalan serta mengasah kecerdasan adversity yang dimiliki oleh para santri peserta KTQ.

Sedangkan tujuan yang lain, menghidupkan Masjid binaan Dompet Dhuafa, yaitu Masjid Al-Ijtihad yang berada di Kampong Ngasemayu. Harapannya dengan Karantina Tahfidz Quran, kaum muslimin warga Ngasemayu terinspirasi dan termotivasi untuk semangat beribadah, menghidupkan Masjid bersama-sama.

Segera hijrah dari kemalasan beribadah menuju kecintaan beribadah kepada Alloh SWT dengan giat berjamaah sholat di Masjid dan giat belajar Al-Quran.

Kondisi yang sederhana yang serba minim, ternyata tidak menyurutkan semangat para peserta dalam mengikuti rangkaian kegiatan. Terlihat begitu antusias mereka dalam menapaki tahapan kegiatan. Dalam hafalan, mereka sangat kompetitif dalam menambah hafalan.

Mereka pun kratif mensikapi kesulitan-kesulitan teknis yang dialaminya selama 3 hari. Walaupun terbatas fasilitas yang disediakan oleh panitia, namun mereka para peserta mampu memaksimalkannya. – Bilal Imam Syah Majaiz, Cordofa Dompet Dhuafa Jogja

Ketika Marbot Masjid Menemui Ajal

JAKARTA – Sahuri (65), warga Rawamangun RT 12/01 Kec. Pulogadung Jakarta Timur ini meninggal dunia pukul 10.00 wib di rumah sakit Omni, karena pendarahan bagian kepala akibat jatuh saat memperbaiki plafon rumah tetangganya.

Alm Sahuri merupakan marbot Masjid Salman Alfarisi di Komplek Bulog Jl. Haji Ten Rawamangun Jakarta Timur. Sudah lama sahuri mengabdi sebagai marbot di masjid tersebut, yang tidak jauh dari rumah kontrakannya yang sangat sederhana.

Bersama istri dan satu anaknya tersebut sahuri dibawa ke kampung halamannya Dusun Sidakangen RT 04/03 Kelurahan Kebanggan, Kecamatan Sumbang, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah.

DKM Salman Alfarisi yang sejak lama merupakan Mitra layanan Barzah DD langsung menghubungi kami untuk membantu pengantaran janazah almarhun Sahuri. Sekitar 90 menit setelah mendapat telepon dari DKM itu, Tim Barzah DD segera meluncur ke rumah kontrakan keluarga duka.

Selamat jalan pak Sahuri, semoga amal baik nya diterima oleh Allah, terimakasih para donatur. Terimakasih tim Barzah DD terus menebar manfaat. – Madroi, Manager Tim Barzah DD

Sebait Kisah Celemek DD

“Ibu-Ibu itu punya naluri untuk memasak, coba siapkan perlengkapan buat Ibu-ibu di pengungsian supaya mereka bisa mengolah masakan sesuai citarasa mereka” kata Pak Parni Hadi, Dewan Pembina Dompet Dhuafa (DD) di Posko Erupsi Gunung Merapi tahun 2010 lalu.

Malam itu, selepas isya, Iman Surahman, Komandan Respon DMC mengumpulkan semua relawan Respon Erupsi Gunung Merapi 2010 di Posko DD Jogjakarta. Selain untuk melakukan evaluasi aksi harian, malam itu juga hadir Dewan Pembina DD untuk memberikan spirit dan wejangan kepada segenap relawan.

Salah satu bahasan adalah kondisi pengungsian erupsi gunung merapi di Stadion Maguwoharjo yang memprihatinkan. Ribuan pengungsi datang memadati, tumpukan baju bekas yang menggunung, serta kurangnya aktifitas yang menghilangkan kejenuhan para bapak-bapak dan Ibu-ibu hidup di Pengungsian.

Beberapa hari kemudian, tim relawan dibawah komando Iman Surahman mempersiapkan program-progeam hiburan bagi pengungsi dan membeli berbagai perlengkapan memasak, kebetulan juga DD akan melakukan pemotongan puluhan hewan kurban di pengungsian Maguwoharjo.

Bak pesta besar, hampir semua orang terlibat dalam kegiatan pemotongan dan pengolahan daging kurban, ibu-ibu turut memasak daging kurban bersama-sama, semua berbahagia menikmati panganan di Idul kurban di pengungsian.

Tiga tahun kemudian, saya mendapat amanah untuk beramal usaha di DMC Dompet Dhuafa, wejangan dari Pak Parni tentang naluri memasak Ibu-Ibu menjadi program ‘gimmick’ respon yang saya usulkan ke Pak Asmoro, Direktur DMC saat itu. Dan gayungpun bersambut.

Beberapa hari kemudian, saya ajukan pengadaan beberapa perlengkapan masak dan celemek hijau berlogo Dompet Dhuafa. Setiap kali terjun ke lokasi bencana, celemek ini pun menjadi ‘tool’ aksi wajib yang dibawa oleh tim respon sebagai pelengkap program Dapur Umum di Pengungsian.

Tak dinyana, celemek hijau ternyata menjadi salah satu daya tarik ibu-ibu untuk bergabung menjadi relawan Dapur Umum. Bahkan di beberapa lokasi, celemek jadi rebutan, meski akhirnya kami kirim kembali tambahannya.

Fungsi utama dari celemek adalah agar baju si pemakai tidak kotor karena cipratan minyak atau bumbu saat memasak. Fungsi ini sangat terasa, ketika terbatasnya pakaian saat di pengungsian. Sementara fungsi ‘branding’ dan komunikasi dari celemek itu hanya mengikuti saja.

Di pengungsian erupsi Gunung Sinabung di Masjid Kabanjahe Karo, saat itu ada kunjungan Menteri Sosial RI yang diliput stasiun TV Nasional. Sang juru kamera berusaha tidak menyorot spanduk-spanduk berlogo lembaga-lembaga bantuan yang terpasang di sekitar masjid (mungkin karena TV tersebut juga melakukan penghimpunan). Namun saat meliput kegiatan Dapur Umum DD di Masjid tersebut, mereka tak bisa menghindari untuk tidak menyorot logo yang ada di celemek. Celemek hijaupun masuk TV, Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak yang ikut masak jadi makin bersemangat.

Selepas aksi dapur umum selesai, celemek pun menjadi tanda mata bagi mereka yang terlibat dalam kegiatan Dapur Umum di pengungsian. Lebih dari 1.000 pcs celemek diproduksi dan bertebaran di medan aksi bencana. Semoga menambah semangat bagi yang memakainya dan menambah enak yang dimasaknya. Salam Tangguh. – Asep Beny (Rempoa, Ahad 2 April 2017)